Etika Bisnis
Contoh Kasus 1 False Advertising
Beberapa tahun
lalu saya mulai mencoba-coba dengan trend berbelanja online, saya mulai
tertarik dengan ide membeli barang tanpa harus keluar rumah. Pertama-tama
belanja online sangat menyenangkan dan membuat saya nyaman dengan metode
pembelian barang ini, saking nyamanya saya buta dengan pedangang-pedagang
online yang tidak jujur dalam melakukan bisnis. Saya melihat ada yang menjual
sebuah model kit yang sudah di rakit dan full custom paint. Otomatis sebagai
orang yang hobi dengan model kit saya tertarik dengan hasil rakitan penjual
tersebut. Saya tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi sang penjual.
Komunikasi berjalan baik dan saya langsung membeli hasil rakitan penjual.
Tetapi saya kaget karena pada saat barangnya datang ke rumah saya kondisi barang
berebeda dengan yang di deskripsikan oleh si penjual. Ketika saya menghubungi
penjual dia tidak memberikan respon.
Solusi
Toko online
merupakan kemajuan di bidang ekonomi yang tentu saja bermanfaat, tetapi banyak
penjual yang tidak jujur dengan maksud untuk memperkaya diri sendiri tanpa
memikirkan kerugian konsumen. Solusinya adalah coba untuk menghubungi penjual
untuk minta penjelasan dan ganti rugi. Jika mereka menolak atau melarikan diri
maka laporlah ke pihak berwajib karena sudah melanggar undang-undang.
Contoh Kasus 2 Hak Pekerja
Di sebuah toko sembako di dekat rumah saya mempunyai
pegawai sebanyak 5 orang. Sudah 3 bulan gaji mereka belum dibayar sehingga
membuat mereka protes terhadap sang pemilik toko tersebut. Sang pemilik toko
beralasan bahwa pemasukan toko kurang karena kinerja mereka yang tidak maksimal,
tetapi mereka menyangkal pernyataan pemilik toko. Karena hal ini terjadi
konflik antara pemilik toko dan pegawai-pegawainya sehingga ketua RT turun
tangan dan melerai mereka.
Solusi
Ini adalah pelanggaran etika bisnis karena pekerja
mempunyai hak atas upah dari pekerjaan mereka. Jika apa yang di klaim pemilik
toko adalah benar berarti dia punya hak untuk memecat ke 5 pegawai itu. Solusi
dari masalah ini adalah mediasi untuk mencari jalan keluar.
Etika
Bisnis
Secara umum etika bisnis dapat diartikan ke
dalam dua suku kata yaitu “Etika” dan “Bisnis”, sedangkan arti kata dari
“Etika” itu sendiri adalah suatu perilaku yang seharusnya dilakukan karena
“diyakini” bahwa perilaku tersebut adalah “baik”. Sedangkan kata “Bisnis” dapat
diartikan sebagai kegiatan pendayagunaan sumber-sumber daya ekonomi dengan
tujuan memperoleh keuntungan dari kegiatan tersebut, adapun sumber daya ekonomi
yang dimaksud disini adalah
1. bahan baku /
sumber daya yang digunakan
2. tenaga kerja
3. modal
4. energi
5. tekhnologi
6. informasi
Oleh karena itu pengertian etika bisnis
secara spesifik dapat diartikan sebagai standar-standar nilai yang berlaku pada
perusahaan di daerah tertentu dan dijadikan pedoman atau acuan bagi manajer dan
segenap karyawannya dalam mengambil suatu keputusan maupun mengoperasikan suatu
kegiatan bisnis tertentu untuk mencapai tujuan dari perusahaan tersebut,
sehingga suatu etika bisnis mempunyai suatu kedudukan fungsi di suatu
perusahaan sebagai tatanan atau norma yang membuat hubungan baik antar sesama,
sehingga di harapkan tidak terjadi distorsi atau kesenjangan di dalam
perusahaan.
Di dalam masyarakat
suatu etika di bagi menjadi dua macam yaitu :
1. Etika Relatif /
Subyektif
yang mana etika ini
diyakini sebagai suatu tindakan yang benar dan berlaku di daerah tertentu saja,
sebagai cotoh :
* berbicara dan
berperilaku sopan kepada orang yang lebih tua
* meminta ijin saat
berjalan melewati orang yang sedang duduk
2. Etika Universal
yang mana suatu
etika ini dianggap benar di banyak tempat, sebagai contoh :
* menghidupkan
retting saat akan berbelok di jalan raya
* mengetuk pintu
pada saat akan memasuki suatu ruangan
Tujuan
Etika Bisnis
Pengertian Etika Bisnis dan Tujuan Dibuatnya
Etika Bisnis. Pada dasarnya sebuah etika bisnis ini digalakkan karena memiliki
maksud dan tujuan tertentu dalam dunia bisnis. Adapun tujuan etika bisnis
adalah untuk menjalankan dan menciptakan sebuah bisnis seadil mungkin serta
menyesuaikan hukum yang sudah dibuat. Selain itu, juga dimaksudkan untuk
menghilangkan ketergantungan pada sebuah kedudukan individu maupun perusahaan.
Etika bisnis ini tingkatannya lebih luas jika
dibanding dengan ketentuan yang sudah diatur berdasarkan hukum yang berlaku,
bahkan jika dibandingkan dengan standar minimal dari ketentuan hukum maka etika
bisnis menjadi standar atau ukuran yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan,
dalam kegiatan berbisnis tidak jarang kita jumpai adanya bagian abu-abu dan
tidak diatur berdasarkan ketentuan hukum.
Etika Bisnis Mempunyai manfaat sebagai berikut :
1. Memiliki Citra Baik di Mata Pelanggan
2. Perusahaan Menjadi Tepercaya
3. Memaksimalkan Keuntungan
4. Memerhatikan Kepentingan Bersama
5. Menjunjung Nilai Moral
Prinsip Etika Bisnis
Etika bisnis memiliki prinsip-prinsip yang
harus ditempuh perusahaan oleh perusahaan untuk mencapai tujuannya dan harus
dijadikan pedoman agar memiliki standar baku yang mencegah timbulnya ketimpangan
dalam memandang etika moral sebagai standar kerja atau operasi perusahaan.
Muslich (1998: 31-33) mengemukakan prinsip-prinsip etika bisnis sebagai
berikut:
Prinsip otonomi
Prinsip otonomi adalah sikap dan kemampuan
manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya
tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. Atau mengandung arti bahwa
perusahaan secara bebas memiliki wewenang sesuai dengan bidang yang dilakukan
dan pelaksanaannya dengan visi dan misi yang dimilikinya. Kebijakan yang
diambil perusahaan harus diarahkan untuk pengembangan visi dan misi perusahaan
yang berorientasi pada kemakmuran dan kesejahteraan karyawan dan komunitasnya.
Prinsip kejujuran
Kejujuran merupakan nilai yang paling
mendasar dalam mendukung keberhasilan perusahaan. Kejujuran harus diarahkan
pada semua pihak, baik internal maupun eksternal perusahaan. Jika prinsip
kejujuran ini dapat dipegang teguh oleh perusahaan, maka akan dapat
meningkatkan kepercayaan dari lingkungan perusahaan tersebut.Terdapat tiga
lingkup kegiatan bisnis yang bisa ditunjukkan secara jelas bahwa bisnis tidak
akan bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak didasarkan atas kejujuran.
Pertama, jujur dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Kedua,
kejujuran dalam penawaran barang atau jasa dengan mutu dan harga yang
sebanding. Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan.
Prinsip tidak berniat jahat
Prinsip ini ada hubungan erat dengan prinsip
kejujuran. Penerapan prinsip kejujuran yang ketat akan mampu meredam niat jahat
perusahaan itu.
Prinsip keadilanPerusahaan harus bersikap
adil kepada pihak-pihak yang terkait dengan sistem bisnis. Contohnya, upah yang
adil kepada karywan sesuai kontribusinya, pelayanan yang sama kepada konsumen,
dan lain-lain,menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan
aturan yang adil dan sesuai kriteria yang rasional obyektif, serta dapat
dipertanggung jawabkan.
Prinsip hormat pada diri sendiri
Perlunya menjaga citra baik perusahaan
tersebut melalui prinsip kejujuran, tidak berniat jahat dan prinsip keadilan.
Yuda Dwisaksono
1725304
3EA30
Comments
Post a Comment